SERANGGA

Aku masih ingat saat itu. Kami berenam duduk mengelilingi sebuah meja, entah membicarakan apa. Salah seorang dari kami mengeluarkan kunci, hendak pergi.

“Itu serangga?” Fokus kami teralih pada gantungan kunci yang di pegangnya. Serangga yang di bekukan dalam wadah plastik.

“Hmm… serangga.”

“Kasihan.”

“Itu CUMA serangga.”

“Kasihan.” Aku ikut menimpali.

Sebagai manusia, kita selalu merasa lebih superior dibanding yang lain. Biasa mempertaruhkan nyawa demi kesenangan kita. Gantungan kunci serangga. Kura-kura, burung yang dijual dan dijadikan mainan anak-anak. Hutan yang dibakar dijadikan ladang pertanian. Dan lain-lain.

“Itu CUMA binatang.” Sebagian otakku mencerca.

Dan kemudian entah kenapa aku membayangkan sebuah piring terbang datang. Menembaki manusia dengan teknologi lasernya. Menculiknya untuk dijadikan pajangan salah satu koleksi makhluk hidup yang ada di sebuah planet.

“Kasihan, ya.” Salah satu Alien berintelegensi tinggi di piring terbang itu berkata.

“Mereka CUMA manusia.”

Bayangan di otakku berubah seperti saat mengganti saluran televisi. Kini, aku melihat seseorang berjas parlente. Memarahi dan memaki seseorang berbaju kusut.

“Dia CUMA pekerja.”

Bayanganku kembali digantikan dua ekor kucing. Mereka saling mencakar karena berebut makanan. Satu kucing yang lebih besar langsung menyerobot makanan itu begitu ada kesempatan. Kalau bisa bahasa Endonesah, kucing besar itu akan berkata, “Kamu CUMA anak kecil.”

Kesombongan ada dalam diri setiap makhluk hidup. Mungkin tertanam jujur dalam DNA. Sudah menjadi hukum alam yang lebih superior menindas yang lebih lemah.

Otakku memutar satu peristiwa. Iblis dan manusia berdiri berhadapan. “Kamu CUMA terbuat dari tanah, sedangkan aku dari api.”

Ha ha ha

Tidak lucu lagi. Kenapa kupikirkan semua ini? Aku benci berpikir.

Lagi-lagi sebuah jawaban muncul tanpa proses berpikir. Salah satu kutipan buku yang kulupa judulnya dan kubaca entah kapan tiba-tiba hinggp di kepalaku.

“Kau tidak memilih pikiranmu. Pikiranmulah yang memilihmu. Saat kau berpikir menemukan ide, sebenarnya ide itulah yang menemukanmu.”

Aku berusaha memfokuskan diriku ke momen kini. Ubin lantai rumahku. Oseng kacang campur udang yang menanti kulahap.

“Kasihan udangnya kamu makan.” Satu pikiran meminta perhatian.

“Bodo amat.” Pikiran lain menjawab. “Ini enak.”

Aku memilih maka aku ada.

Aku mengambil satu udang dan memasukkannya ke dalam mulutku. Ya, ini enak. Sedikit hambar. Tak seenak kemarin. Bercampur rasa bersalah.

Comments