Pendidikan

 Seorang tukang es krim lewat. Alfa langsung berteriak memanggilnya supaya berhenti. Kemudian dia beralih padaku mata memelas untuk membelikannya. Seseorang di sampingku berkata padaku, “Tipu aja. Bilang ke Alfa nggak enak.”

Aku hanya tersenyum padanya. Tapi dalam hati berteriak. Hei, itu anak kecil punya otak ya. Dia bakal tahu kalau dia dibohongi. Sepuluh tahun sampai dua puluh tahun lagi, bisa jadi dia bakal lebih pintar dari kita. Kalau saat itu terjadi dan kita sudah tidak di percaya lagi olehnya, dia bakal cerita dan lari tentang masalahnya ke hal lain.

Dari situ aku menyadari bahwa pendidikan dan ilmu parenting itu penting. Respon dan sikap kita ke anak akan berdampak sesuatu yang berbeda pula pada mereka.

Suatu ketika, Ibuku masuk kamar. Aku yang lagi spaneng mikir makna hidup dan pengin jadi capung saja terganggu olehnya.

“Alfa nggak kamu sekolahkan Arab?”

Dia kemudian menyebut nama dua anak tetangga sebelah sudah sekolah Arab semua.

Duh, Alfa itu huruf ABC aja nggak hafal-hafal padahal belajarnya udah berbulan-bulan. Angka juga begitu. Ini mau ditambah menghafal huruf arab. Yakin dia bisa? 

Dan, tentu saja aku malas banget mengantarnya ke sekolah.

Ini bukan berarti Alfa bodoh. Hanya saja, aku tahu dia bukan tipe siswa hafalan. Otaknya dominan otak kanan. Sebagai manusia dominan otak kanan aku tahu benar betapa sulitnya menghafal. Duh, nama tetangga sendiri nggak hafal. Mending suruh baca buku dan ngejelasin isinya aja deh dari pada menghafal nama orang. Itulah mengapa dulunya aku benci pelajaran Sejarah yang penuh dengan nama Pahlawan yang harus dihafal. Langsung Remidi aja. Apalagi sejarah masa lalu. Mengulik-ulik kenangan. Mengingat nama mantan. Duh, benci banget aku. Eh, kok malah jadi curhat. Skip-skip.

Back to Alfa, meski dia dominan otak kanan, dia bukan tipe pelukis jenius semacam Leonardo Da Vinci yang bisa bikin lukisan legenda semacam Monalisa. Aku tahu saat membimbingnya mewarnai. Dia juga sama parahnya denganku, tak punya bakat menggambar. Yah, musnah sudah impianku punya adek yang bakal jadi animator CGI. Eh, curhat lagi.

Alfa itu tipe visual. Kalau kamu bertanya angka tujuh yang mana, dia nggak bakal ngerti. Tapi saat kamu bilang cangkul, dia pasti akan menunjuk simbol ‘7’. Bukan berarti dia salah. Dia hanya punya bahasanya sendiri. Bahasa visual. Bahasa anak-anak. Sama seperti saat kamu menyuruh bule dengan bilang tujuh, tuh bule juga nggak akan ngerti. Dia ngertinya ‘seven’. Bahasanya Inggris.

Kalau ditanya apa bakatnya Alfa, mungkin lebih ke strategi dan logika. Lagi-lagi sama sepertiku. Mungkin itulah mengapa kita plek banget. Aku seperti tahu apa yang dia inginkan dan dia benci. Untung saja dia tipe penurut. Kalau dia tipe pemberontak seperti aku saat kecil, nggak kebayang deh susahnya ngurus dia kek apa.

Aku tahu kemampuan logika Alfa saat melihatnya main game. Dari game juga, aku bisa meneliti kepribadiannya Alfa. Kelebihannya dalam hal apa dan kekurangannya dalam hal apa. Alfa itu ambisius. Selalu pengin menang dalam hal apapun. Dengan cara curang sekalipun. Aku aja sering kalah kalau main game sama dia. Dicurangi dia juga. Dia itu cocok banget untuk jadi peserta olimpiade atau lomba apapun karena dia tipe orang yang suka ngincer kemenangan. Dia juga narsistik abis. Untuk dua hal ini, dia nggak kayak aku… 🤣

Kesimpulannya, Alfa mau di masukkan ke sekolah Arab atau tidak, mungkin belum dulu untuk saat ini. Nunggu setahun lagi. Dua tahun lagi. Setidaknya dia harus memahami konsep membaca ABC dulu. Atau tak ajari sendiri aja. Soalnya menurutku sekolah Arab itu sedikit kejam. Bukan karena gurunya keras dan galak atau apa. Hanya saja tidak terlalu cocok untuk tipe siswa yang susah menghafal seperti Alfa. Bayangin aja, dia bakal ketinggalan jauh sama siswa yang gampang menghafal. Yang lain dapat ‘shod’ terus. Dia dapet ‘ghoin’ terus. Takut tekanan batin. Pengalaman seperti dek Agam dulu, dia sepertinya sering tertekan saat pergi ke sekolah.

Lagipula, makin kesini aku makin skeptis sama pendidikan formal beserta kurikulumnya. Aku seperti Firas yang nggak rela melepas Zarah untuk sekolah formal. Rasanya pengin tak ajari sendiri aja. Sesuai kemampuannya. Sesuai bakatnya. Tapi sekolah formal tetap penting untuk bersosialisasi. Untuk punya banyak teman. Untuk ngerasain gimana rasanya di sekolah seperti anak-anak lain. Perihal nilai-nilai akademiknya jelek, aku nggak terlalu ambil pusing.

Tiap anak lahir dengan bakatnya masing-masing. Einstein pernah berkata, “Everyone is genius. But if you jugde a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that is stupid.”

Tugas orang tua itu memfasilitasi anaknya. Membimbing anaknya menemukan bakatnya. Khalil Gibran pernah berkata, “Anakmu bukanlah anak-anakmu. Dia adalah anak kehidupan yang merindukan dirinya sendiri.”

Yang kuharapkan dari Alfa hanya satu. Dia ingat tujuan dia dilahirkan ke Bumi. Entah itu jadi Sarvara, Peretas atau Infiltran. Jadi Kapiten juga boleh. (Ini apa sih).

Comments

Popular posts from this blog

SERANGGA